Namaku
Shella Oktaviani. Sekarang aku sudah menjadi anak SMU di kotaku, yaitu SMU Air
Langga.
Hari
ini hari pertama aku masuk kelas baruku yaitu kelas X-2C. Aku memilih untuk
duduk dibelakang, karena aku menyukai duduk di belakang. Setelah itu, aku
membuka tasku dan mengambil sisir dan kaca yang sering kubawa. Aku mulai
menyisir rambutku sambil melihat kaca untuk merapikan rambutku yang berantakan
karena kena angin pagi tadi.
Tiba-tiba
saat sedang asyik menyisir, ada seorang cewek masuk. Cewek itu tidak tinggi
juga tidak pendek, rambutnya, rambutnya panjang sebahunya, membuatnya cantik
saat sedang tersenyum dan kemudian menghampiriku.
Ia
mendekatiku, lalu mengulurkan tangannya dan berkata, “ Hay, namaku Bella
Wijaya, bisa dipanggil Bella.” Aku juga tersenyum dan mengatakan, “ Hay juga,
namaku Shella Oktaviani, kamu bisa panggil aku Shella.” Kemudian kami
bersalaman, setelah itu Bella duduk disampingku.
Setelah
ku perhatikan, kelasku dipenuhi oleh siswa yang baik, lucu, pintar, dll, kecuali
satu. Cowok yang duduk dibelakang dan tersudut diantara yang lain. Cuma dia
yang membuatku penasaran. Cowok itu tinggi, badannya lumayan atletis dan Ia
memakai kacamata yang kelihatannya baru.Tiba-tiba ada sekelompok cewek yang
menghampirinya, kelihatannya mereka cewek-cewek dari kelas sebelah, katanya
mereka itu cewek-cewek cantik dikalangan kelas X. Mereka memperkenalkan dirinya
dengan cowok itu. Cowok itu Cuma tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada
cewek-cewek itu. Cewek-cewek itu kelihatannya antusias banget, saat cowok itu
mulai berbicara dengan mereka. Aku cuma melihat dan setelah cewek-cewek tadi
pergi, kelihatannya cowok itu merasa lega mungkin Ia tidak terlalu menyukai
cewek. Ia mulai lagi membaca buku yang ada di meja hingga Bel Sekolah berbunyi.
Pelajaran
pertama, Seorang Guru Wanita masuk kekelas, kira-kira umurnya cuma terpaut 10
atau 11 tahun dari kami. Ia menyapa kami dengan senyumannya yang manis, membuat
semua cowok senang banget dengan Guru yang satu ini. Mereka gembira sekali,
padahal Beliau adalah Guru Sejarah. Entah apa yang merasuki Guru yang satu ini
untuk menyukai pelajaran ini.
Pelajaran
kedua, pelajaran kedua tidak seseru seperti pelajaran pertama tadi, semua cowok
malah bosan banget. Siapa sih yang nggak bosan kalau Guru yang masuk bukan Wanita
Muda yang cantik melainkan Pria Tua yang sudah beruban dan berjenggot tetapi
jalannya masih tegap dan mukanya menyeramkan. Beliau adalah Guru Bahasa
Indonesia. What? Padahal selama ini, Guru-guru yang sering mengajar Bahasa
Indonesia itu Guru Wanita, Kok sekarang malah Pria. Nih serasa lagi masuk dunia
lain ya. Rasanya bosan banget ,dua jam pelajaran Cuma dilalui dengan ocehan
kakek-kakek Upss.. maksudku Pria Tua ini. Akhirnya suara bel berbunyi pun
terdengar. Aku merapikan buku-buku dan peralatan lainnya, lalu sebagian ku
masukan kedalam tas dan kedalam laci.
Kemudian
Aku dan Bella bergegas keluar kelas berjalan melewati koridor-koridor yang ada.
Baru kali ini kami kekantin sekolah kami, lalu kami memesan Mie Ayam dan es teh
manis. Lalu kami berjalan melewati kerumunan orang yang sedang kelaparan sambil
berhati-hati membawa makanan kami supaya tidak jatuh. Setelah keluar dari
kerumunan orang-orang atau lebih baik disebut kumpulan zombie yang kelaparan di
Plants vs Zombie itu, kami memilih untuk duduk dimeja paling ujung dekat pintu keluar
kantin.
Setelah
makan, kami meninggalkan kantin yang masih dipenuhi oleh zombie itu. Kami
berjalan berkeliling dari koridor satu ke koridor selanjutnya. Saat melewati
koridor ketiga, mataku tertuju kepada segerombol Pria yang berada dekat tangga
menuju kelas kami, badan mereka kekar-kekar bahkan ada yang seperti Preman
Pasar. Tetapi, satu orang yang membuatku penasaran, Dia duduk di tengah-tengah tangga
sehingga kemungkinan besar kami tidak bisa melewatinya tanpa berbasa-basi dulu
kepada mereka. Dia cowok itu, mungkin aku bisa memintanya untuk memberi jalan
kepada kami.Tetapi aku dan dia kan tidak saling kenal. Saat kami melewati
mereka, mereka langsung melihat kami dan tersenyum-senyum, salah satu dari
mereka sekelas dengan kami.
Salah
seorang dari mereka berkata, sepertinya dia kakak kelas kami, “ Hay, cewek .”
Aku dan Bella saling berpandangan lalu memasang senyum semanis mungkin supaya
mereka memberi jalan. Ternyata, kami malah ditahan dan ditanya lagi oleh
seorang dari mereka, sepertinya ini juga kakak kelas juga, “ Namanya siapa nih
? ”, terpaksa kami memasang senyum lalu aku berkata, “ Nama saya Shella, Kak.”
Lalu Bella melanjutkan, “ Nama saya Bella, Kak.”
Lalu
salah satu cowok yang lain berkata, “ Udah punya pacar belom nih ? ” sambil
mengedipkan matanya ke arahku. Rasanya aku sudah seperti orang yang sedang di
intropeksi saja, kepengen banget aku nendang ini cowok keujung dunia, tapi itu
tidak mungkin terjadi. Kalaupun terjadi, pasti dunia kiamat dehh.. Aku berkata,
“ Belom.” Bella Cuma diam. Lalu cowok yang lain berkata, “ Kok, temennya diam
sih, ayo jawab donk.” Lalu Bella menjawab dengan agak ragu dan takut, “ Belom ,
Kak.”
Mereka
cuma tersenyum nyaris bikin takut banget senyum itu. Lalu mereka mulai melihat
kami dari atas hingga bawah, entah apa yang mereka lihat. Dan tiba-tiba aku
mulai berani tuk berkata, “ Kakak-kakak, boleh kami lewat nggak.” Lalu aku
melihat kea rah cowok itu. Salah satu dari mereka berkata, “ Ngaa, bolehin
lewat gak kedua cewek ini.” Dia menoleh kearah cowok itu. Lalu cowok itu
berkata, “ Bolehin aja.” Lalu ada yang tidak senang lalu berkata, “ Hey, Rangga
kenapa sih kamu hari ini? Kamu tau kan aku suka banget sama nie cewek.” Cowok
itu menunjuk ke arahku dan tersenyum, kalau dilihat-lihat dia lumayan,
sepertinya aku mengenali dia. Lalu cowok yang tadi itu berkata, “ Hay, namaku
Markus Sanjaya, kamu bisa panggil aku Markus. Aku ketua OSIS waktu kamu pertama
MOS.” Baru kuingat dia ketua OSIS, dia cowok paling popular. Kelihatannya semua
cowok yang ada disini termasuk cowok popular semua, termasuk dia, cowok itu
yang dipanggil Rangga, ternyata namanya Rangga.
Lalu
Rangga menjawab, “ Aku tau, dia yang Kakak bilang cewek berambut panjang yang
selalu Kakak ceritakan dan selalu membawa sisir dan kaca untuk merapikan
rambutnya itu bukan. Dia juga yang senyumannya manis sampai-sampai membuatmu
menyukainya bukan.” Aku terkesiap mendengar perkataan cowok itu, sekaligus aku
merasa mukaku pasti sudah benar-benar panas dan merah padam. Sepertinya Kak
Markus menyukaiku. Apa? Dalam hati aku nyengir dan cukup senang, Ketua OSIS di sekolahku
yang popular ini, menyukaiku.
Sepertinya
muka Kak Markus juga merasa panas dan merah padam, bahkan lebih merah dariku
karena warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih itu.
Tiba-tiba
aku seperti tersambar petir saat mendengar cowok itu mengucapkan kata, “ Kak,, Dia
juga yang sudah menabrakku saat Hari Pertama MOS, Kak. Dia cuma bilang sorry, aku
gak sengaja, lalu meninggalkanku saat aku masih terjatuh dan dengan kacamataku
pecah. Sampai harus beli kacamata baru. Sebenarnya gak masalah tentang kacamata
ini, tapi aku merasa dia belum meminta maaf kepadaku, Kak. Aku langsung tau
saat Kakak menceritakannya padaku.”
Aku
terkejut, ternyata dia yang waktu itu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar