Sesampai
dikelas, aku langsung duduk dan mengambil buku-buku yang akan dipelajari. Aku
masih penasaran, apakah benar Kak Markus menyukaiku? Dan tiba – tiba rasa
penasaran itu berubah jadi rasa bersalah karena telah merusak kacamata Rangga,
pantas saja kacamata itu kelihatan baru dan akulah yang menyebabkan kacamatanya
rusak.
Saat
aku tanpa sengaja melihat cowok itu, cowok itu tiba – tiba berbalik ke arahku
dan mataku langsung bertemu dengan matanya yang hitam gelap. Seakan tertarik
oleh gaya gravitasi matanya, aku tidak bisa berbalik ke arah lain. Mata itu
melihatku dengan tatapan yang sangat tajam, bahkan lebih tajam daripada sebuah
pisau.
Akhirnya
mata itu berbalik ke arah lain, barulah aku bisa bergerak kembali. Entah kenapa
aku tadi tak bisa bergerak dan aku semakin merasa bersalah, bahkan hingga pelajaran
ke-6 berakhir.
Saat
lonceng bel berbunyi, aku membereskan barangku dan dengan perasaan yang tidak
enak. Tiba – tiba Bella berkata, “ Shell, kamu kenapa ? Apa kamu masih berpikir
tentang kejadian tadi , ya ? ”. Aku menatap Bella dengan ekspresi bingung, lalu
Bella berkata, “ Tadi, waktu pelajaran Pak Rudi, aku mau memanggilmu. Saat aku
berbalik ke arahmu, ku lihat kamu sedang bertatapan dengan Rangga, tapi Rangga
langsung memalingkan wajahnya. Saat aku mau memanggilmu, ku lihat kamu terlihat
pucat, jadi aku tidak memanggilmu ? ”
Jadi
itu, pantas saja Ia langsung memalingkan mukanya, ternyata Bella melihat
kejadian itu. “ Ah.. gak kok Bell, ” sambil mengibas- ngibaskan tanganku lalu
aku mengalihkan pembicaraan, “ Memang kamu mau manggil aku untuk apa tadi ? ”.
Bella malah nyengir, lalu berkata, “ Cuma mau minta nomor HP-mu. Supaya aku
bisa curhat-curhatan sama kamu atau tanya PR ?”
Lalu
aku menulis sederet nomor yang sudah kuhapal di luar kepala. Kemudian aku
memberikan kertas berisi nomor Hp itu kepada Bella. Bella menerimanya dengan
suka cita.
Kemudian,
kami mulai menelusuri koridor lagi, kali ini kami lebih berhati-hati agar tidak
bertemu dengan cowok-cowok itu lagi. Saat kami sampai dikantin, langkah aku dan
Bella terhenti. Kami melihat segerombol cowok itu lagi. Salah satu cowok itu
berbisik kepada cowok lain. Lalu mereka melirik ke arah kami dan tersenyum. Kak
Markus melakukan hal yang sama, bahkan Ia berdiri dari tempatnya duduk dan
berjalan ke arahku dan Bella. Lalu Kak Markus menyapaku dan Bella, “ Hay, Shell
dan Hay, Bella.” Kami berdua masih diam dan tidak menyahut.
Lalu
Kak Markus berkata, “ Ayo, ikut aku.” Entah kenapa aku dan Bella menurut saja
untuk ikut dengan Kak Markus ke arah meja paling ujung yang di duduki oleh
cowok-cowok itu termasuk Rangga.
Rangga
menatapku dengan tatapan seperti tadi, aku cuma bisa pasrah dan menundukkan
kepala karena masih merasa bersalah.
Setelah
sampai, aku dan Bella disuruh duduk dan kami dikelilingi oleh cowok-cowok itu.
Siswa-siswa lain yang melihat hal itu merasa penasaran, mereka sampai-sampai
tidak melakukan apapun untuk tahu apa yang sedang dilakukan cowok-cowok popular
itu terhadap dua cewek yang kelihatan ketakutan.
Lanjutan nya dong,Kakak :D
BalasHapuswkwkwk... nnti sya pikirkan ;)
Hapus